KESEMPATAN DALAM KESEMPITAN (1999)
Satu hari aku dipanggil Kasal. Beliau memberitahuku bahwa beliau sudah menghadap Pangab, untuk melaporkan bahwa akan mempromosikan aku menjadi Danjen Akabri, sebuah jabatan untuk Pati bintang tiga (Letjen). Menurut beliau Pangab sudah menyetujui. Mendengar apa yang beliau sampaikan hatiku sempat berbunga-bunga, namun tidak berkomentar banyak kecuali menyampaikan ucapan terima kasih atas perhatian beliau terhadapku. Hal itu disebabkan karena beberapa bulan sebelumnya aku juga pernah beliau beritau bahwa aku akan diusulkan untuk bisa dipromosikan pada jabatan Irjen TNI, tetapi gagal karena Kasau minta agar beliau mendukung calon yang diusulkan TNI-AU, dan beliau tidak bisa menolak, meskipun sebetulnya aku lebih senior dari calon yang diajukan Kasau. Mungkin karena sifat seperti umumnya orang Jawa yang penuh dengan ewuh-pakewuh. Oleh karena itu aku masih berfikir apakah mungkin sekarang giliranku? Terus terang hati kecilku masih ragu...
Pada pelaksanaan sidang Wanjakti Pati TNI ternyata beliau beserta Pangab dan Kepala Staf Angkatan lainnya tidak bisa hadir karena selaku anggota Fraksi ABRI mereka masih terlibat di dalam Badan Pekerja (BP) MPR, yang pada waktu itu sedang membahas Rancangan Ketetapan (Rantap) dan Rancangan Keputusan (Rantus) MPR yang diajukan dalam Sidang Istimewa MPR tahun 1998. Oleh karena itu Sidang Wanjakti Pati TNI kemudian dipimpin oleh Kasum mewakili Panglima ABRI dan para Aspers Angkatan mewakili Kas Angkatan, termasuk Kasal yang diwakili oleh Aspers Kasal.
Kira-kira tiga hari kemudian aku mendapat undangan untuk meninjau sarana latihan ABRI di Cilodong termasuk peresmian Lapangan Tembaknya. Pada waktu itu aku bertemu dengan Aspers Kasum ABRI, alumni AMN ’68, rekanku satu angkatan. Beliau memanggilku, merangkulku kemudian mengatakan: “Dasar memang bukan rejekimu Dar!”.
Aku balik bertanya “Ada apa ini?”.
“Kemarin kan baru sidang Wanjakti Pati TNI” katanya, “Pada waktu membahas calon untuk jabatan Danjen Akabri, Kasal kan nggak ada karena lagi ikut sidang MPR. Ternyata namamu juga ikut nggak ada.” lanjut beliau sambil tertawa. “Yang muncul nama Aspers yang waktu itu hadir mewakili Kasal”.
“Aku kan nggak ngerti masalahnya” lanjut beliau. “Nah kemarin pada waktu aku menyodorkan hasil rapat untuk ditandatangani Pangab, dia sempat nanya aku, kenapa Danjen Akabri bukan Sudarsono Kasdi? Dia bilang katanya Kasal sudah ngomong sama dia, mau mempromosikan kamu, dan dia juga udah bilang setuju”. Beliau sering menyebut Pangab dengan ‘dia’, karena kebetulan rekanku ini satu angkatan AMN ’68 dengan Pangab.
‘Terus kamu bilang apa?” aku menimpali bertanya.
“Ya aku jawab itulah keputusan sidangnya! Sebetulnya sih dia sempat nyuruh aku nelpon Kasal, tapi ditunggu hampir satu jam nggak bisa nyambung. Mungkin karena lagi sibuk sidang lanjutan di MPR jadi hp-nya dimatiin”.
“Lantas?” tanyaku karena ingin segera tahu akhir ceritanya.
“Waktunya kan mendesak, karena kemarin sudah harus maju ke Presiden.
Akhirnya ya... bim-salabim ..... sreeet.. Pangab teken... !! Wis, pancen nasibmu elek kok Dar, he he he...” jawab beliau sekaligus mengakhiri ceritanya sambil terkekeh....
Mendengar ceritanya aku sempat tertegun. ..!
Ohoooo..!!, rupanya “mengambil kesempatan dalam kesempitan” bukan sekedar joke di warung kopi, tetapi ternyata sebuah taktik konyol yang bagi sementara orang betul-betul dipraktekkan untuk mencapai tujuan. Dan pada kenyataannya ampuh juga...!!!
Ya nggak apa-apa, wong aku juga nggak pernah minta ... cuma kok ya ada .... perwira tinggi yang demikian rendah moralnya .. ..
ALRI lagee, ... he he he ...!
***
(Copas dari buku "Sosok Seorang MARINIR BANYUMAS", Otobiografi Mayjen TNI (Mar) Sudarsono Kasdi)
Sabtu, 27 Januari 2018
NYARIS (1997)
Selama aku menjabat sebagai Gub AAL, aku merasakan tugas begitu mudah aku laksanakan. Hal itu disebabkan selain karena aku merasa menjiwai, dan pimpinan TNI-AL (Kasal) waktu itu sangat memahami permasalahan yang kami hadapi, sehingga semua saran dan usulan hampir semuanya disetujui dan didukung. Namun beliau juga
mempunyai sifat yang over reaktif terhadap sesuatu yang menyinggung perasaannya, sebelum betul-betul memahami persoalan yang sebenarnya.
Ada satu kejadian yang nyaris membuat aku khilaf.
Bermula dari kunjungan Kasal dalam rangka Hari Pendidikan TNI-AL tahun 1997 di Kodikal, Surabaya. Pada kesempatan kunjungan itu, isteri Kasal yang juga selaku Ibu Taruna, diacarakan untuk makan malam bersama taruna. Pada saat menunggu dimulainya upacara, Kasal menginformasikan kepadaku bahwa besok pagi, selesai dari kunjungan ke Gresik beliau akan langsung menuju ke AAL karena Sidang Wanpatjab Pati yang rencananya akan dilaksanakan di Candrasa Armatim, dialihkan ke AAL. Rencananya selesai sidang beliau akan meninjau
peragaan paket kegiatan Kunjungan Wisata ke AAL, yang beberapa hari sebelumnya sudah ditinjau oleh Gubernur Jatim, Basofi Sudirman, Walikota Surabaya Kol Sunarto, dan seluruh Biro Wisata yang ada di Jawa Timur, dibawah kendali Ka Biro Wisata (?) Kol Laut Rio Judojanto. Pada waktu itu aku memang sedang merintis untuk mencoba menjadikan AAL sebagai salah satu sasaran kunjungan wisata di Surabaya.
Selesai upacara di Kodikal Dan Lantamal III menemuiku dengan maksud minta dibantu dua pengemudi, untuk mengemudikan bus yang akan melayani Kasal dan rombongan pada saat peninjauan di AAL. Aku langsung menyanggupi. Kemudian aku perintahkan Dan Denma untuk menyiapkan pengemudi bus yang sudah digeladi untuk acara paket
kunjungan wisata.
Kurang lebih pukul 17.00 WIB Dan Denma melaporkan bahwa 2 bus sudah datang di AAL. Ternyata itu adalah bus brand-new yang interiornya baru saja selesai di up-grade.
Sekitar pukul 18.30 ibu taruna tiba untuk acara makan malam bersama taruna. Aku menerima ibu di ruang audio visual. Sambil menunggu waktu dan kesiapan taruna di ruang makan, ibu taruna menyaksikan beberapa peragaan multi media.
Sekitar pukul 18.50 pada saat rombongan akan berangkat ke ruang makan, aku melihat 2 bus tadi masih berada di tempat parkir di samping gedung Gajah Mada, tidak jauh dari ruang audio visual. Disitu juga ada Dan Denma dan pengemudi yang masih mengadakan pengecekan.
Tanpa pikir panjang aku mempersilahkan ibu-ibu untuk naik dan memerintahkan pengemudi untuk mengantar beliau dan rombongan ke ruang makan. Pertimbanganku adalah selain jaraknya yang cukup jauh, juga suasananya yang sudah cukup gelap yang memungkinkan ibu-ibu akan tersandung batu paving.
Pada saat acara sambutan Ibu Taruna, ADC memberitahuku bahwa Kasal memerintahkan agar bus dikembalikan ke bengkel. Meski agak sedikit bingung tapi aku jawab, “ya”.
Besok paginya, masih pagi sekali, Dan Lantamal menilponku, menginformasikan bahwa Kasal marah besar karena aku memerintahkan bengkel untuk mengirimkan bus ke AAL. Beliau juga kecewa karena bus tersebut digunakan Ibu Taruna dan rombongan, padahal rencananya bus tadi baru akan ditampilkan pada saat beliau dan rombongan tiba di AAL hari ini.
Mendengar informasi dan penjelasan tersebut aku tersentak, dan setengah membentak menanyakan kepada Dan Lantamal, kenapa rencana Kasal seperti itu tidak diinformasikan kepadaku. Aku jelaskan bahwa aku tidak pernah memerintahkan bengkel untuk membawa bus ke AAL, dan aku juga tidak pernah tahu rencana tersebut.
Pada saat aku tiba di gedung Candrasa Armatim sekitar pukul 07.00, Kasarma menginformasikan bahwa sidang Wanpatjab tidak jadi dilaksanakan di AAL, tetapi sesuai rencana semula yaitu di Candrasa Armatim. Sampai saat itu aku masih belum tahu bahwa pemindahan tersebut berkaitan dengan kasus bus. Aku baru menyadari pada saat selesai sidang, dimana Kasal memerintahkan semua perwira untuk keluar ruangan, kecuali aku.
Dengan gaya Kadet Senior beliau memanggilku untuk mendekat. Sambil bertolak pinggang dan mata melotot, beliau mengarahkan jari telunjuknya tepat ke kedua mataku, sambil berkata ketus: “Kamu mau coba-coba sama saya? Kamu tahu, sekarang yang berkuasa di Angkatan Laut adalah saya! Kamu bukan apa-apa, dan bukan siapa-siapa. Kalau saya mau, besok pagi-pun kamu sudah bisa out dari Angkatan Laut. Jangan kamu kira saya tidak bisa memecat kamu, dst….dst….”
Mendapat murka beliau seperti itu aku bukannya keder, tetapi justru sebaliknya. Terasa sekali darahku merambat naik ke kepala. Tapi aku masih mampu menahan diri. Dengan tatapan benci tanpa mengeluarkan satu patah katapun aku pandang tajam mata beliau. Diam-diam aku mulai ancang-ancang. Pelan-pelan telapak tangan kanan aku kepalkan, siap setiap saat untuk melepaskan bogem mentah. Dalam hati aku mereka-reka, “Coba saja berani menyentuh mukaku, apalagi sampai memukulku, aku pastikan kepalan ini akan langsung melesat tepat ke rahang”. Aku yakin betul akan bisa mengenainya, karena selain waktu di pasukan aku rajin berlatih karate, juga di rumah aku masih rajin
memukul sandsack. Aku tidak sempat berpikir apa akibatnya seandainya hal itu terjadi. Bersyukur aku tidak perlu bertindak sejauh itu. Mungkin karena beliau melihat gelagat nekatku.
Setelah beliau berhenti berbicara dan diam, aku berkata, “Mohon maaf Kasal, saya belum bisa memberikan penjelasan sekarang. Saya mohon waktu paling lama satu minggu, saya akan menghadap Bapak di Jakarta, untuk menjelaskan permasalahannya”.
Kembali ke AAL aku langsung memanggil Dan Denma dan ADC, untuk minta penjelasan duduk perkaranya. Kemudian aku susun ke dalam laporan khusus dalam bentuk kronologi apa yang aku dengar, apa yang aku perintahkan dan apa yang aku kerjakan. Intinya adalah sama ksekali tidak ada kesengajaanku atau siapapun untuk menyabot rencana Kasal, kecuali betul-betul karena memang kami tidak pernah diberi tahu.
Tiga hari setelah kejadian, aku menghadap Kasal di Mabesal. Setelah beliau membaca laporanku dengan cermat, kemudian beliau berkata singkat, kira-kira begini: “Di”, (beliau selalu memanggilku Kasdi), “Anggap saja waktu itu tidak terjadi apa-apa. Mari kita sama-sama melupakan apa yang telah terjadi. Kita semua akhirnya nanti juga akan pensiun, dan itu tidak lama lagi. Dan kalau sudah pensiun yang ada tinggal bagaimana kita saling bersilaturahmi, dst.-”.
Memang tidak ada permintaan maaf, tapi aku tahu apa yang beliau sampaikan adalah tulus. Dan bagiku itu sudah cukup, sehingga dari lubuk hatiku yang paling dalam tanpa harus diminta aku sudah memaafkan beliau.
Sejak itu hubungan kami menjadi jauh lebih baik, meskipun gayanya masih tetap saja gaya khas senior anak ambtenaar perkebunan.
***
(Copas dari buku "Sosok Seorang MARINIR BANYUMAS", Otobiografi Mayjen TNI (Mar) Sudarsono Kasdi)
Selama aku menjabat sebagai Gub AAL, aku merasakan tugas begitu mudah aku laksanakan. Hal itu disebabkan selain karena aku merasa menjiwai, dan pimpinan TNI-AL (Kasal) waktu itu sangat memahami permasalahan yang kami hadapi, sehingga semua saran dan usulan hampir semuanya disetujui dan didukung. Namun beliau juga
mempunyai sifat yang over reaktif terhadap sesuatu yang menyinggung perasaannya, sebelum betul-betul memahami persoalan yang sebenarnya.
Ada satu kejadian yang nyaris membuat aku khilaf.
Bermula dari kunjungan Kasal dalam rangka Hari Pendidikan TNI-AL tahun 1997 di Kodikal, Surabaya. Pada kesempatan kunjungan itu, isteri Kasal yang juga selaku Ibu Taruna, diacarakan untuk makan malam bersama taruna. Pada saat menunggu dimulainya upacara, Kasal menginformasikan kepadaku bahwa besok pagi, selesai dari kunjungan ke Gresik beliau akan langsung menuju ke AAL karena Sidang Wanpatjab Pati yang rencananya akan dilaksanakan di Candrasa Armatim, dialihkan ke AAL. Rencananya selesai sidang beliau akan meninjau
peragaan paket kegiatan Kunjungan Wisata ke AAL, yang beberapa hari sebelumnya sudah ditinjau oleh Gubernur Jatim, Basofi Sudirman, Walikota Surabaya Kol Sunarto, dan seluruh Biro Wisata yang ada di Jawa Timur, dibawah kendali Ka Biro Wisata (?) Kol Laut Rio Judojanto. Pada waktu itu aku memang sedang merintis untuk mencoba menjadikan AAL sebagai salah satu sasaran kunjungan wisata di Surabaya.
Selesai upacara di Kodikal Dan Lantamal III menemuiku dengan maksud minta dibantu dua pengemudi, untuk mengemudikan bus yang akan melayani Kasal dan rombongan pada saat peninjauan di AAL. Aku langsung menyanggupi. Kemudian aku perintahkan Dan Denma untuk menyiapkan pengemudi bus yang sudah digeladi untuk acara paket
kunjungan wisata.
Kurang lebih pukul 17.00 WIB Dan Denma melaporkan bahwa 2 bus sudah datang di AAL. Ternyata itu adalah bus brand-new yang interiornya baru saja selesai di up-grade.
Sekitar pukul 18.30 ibu taruna tiba untuk acara makan malam bersama taruna. Aku menerima ibu di ruang audio visual. Sambil menunggu waktu dan kesiapan taruna di ruang makan, ibu taruna menyaksikan beberapa peragaan multi media.
Sekitar pukul 18.50 pada saat rombongan akan berangkat ke ruang makan, aku melihat 2 bus tadi masih berada di tempat parkir di samping gedung Gajah Mada, tidak jauh dari ruang audio visual. Disitu juga ada Dan Denma dan pengemudi yang masih mengadakan pengecekan.
Tanpa pikir panjang aku mempersilahkan ibu-ibu untuk naik dan memerintahkan pengemudi untuk mengantar beliau dan rombongan ke ruang makan. Pertimbanganku adalah selain jaraknya yang cukup jauh, juga suasananya yang sudah cukup gelap yang memungkinkan ibu-ibu akan tersandung batu paving.
Pada saat acara sambutan Ibu Taruna, ADC memberitahuku bahwa Kasal memerintahkan agar bus dikembalikan ke bengkel. Meski agak sedikit bingung tapi aku jawab, “ya”.
Besok paginya, masih pagi sekali, Dan Lantamal menilponku, menginformasikan bahwa Kasal marah besar karena aku memerintahkan bengkel untuk mengirimkan bus ke AAL. Beliau juga kecewa karena bus tersebut digunakan Ibu Taruna dan rombongan, padahal rencananya bus tadi baru akan ditampilkan pada saat beliau dan rombongan tiba di AAL hari ini.
Mendengar informasi dan penjelasan tersebut aku tersentak, dan setengah membentak menanyakan kepada Dan Lantamal, kenapa rencana Kasal seperti itu tidak diinformasikan kepadaku. Aku jelaskan bahwa aku tidak pernah memerintahkan bengkel untuk membawa bus ke AAL, dan aku juga tidak pernah tahu rencana tersebut.
Pada saat aku tiba di gedung Candrasa Armatim sekitar pukul 07.00, Kasarma menginformasikan bahwa sidang Wanpatjab tidak jadi dilaksanakan di AAL, tetapi sesuai rencana semula yaitu di Candrasa Armatim. Sampai saat itu aku masih belum tahu bahwa pemindahan tersebut berkaitan dengan kasus bus. Aku baru menyadari pada saat selesai sidang, dimana Kasal memerintahkan semua perwira untuk keluar ruangan, kecuali aku.
Dengan gaya Kadet Senior beliau memanggilku untuk mendekat. Sambil bertolak pinggang dan mata melotot, beliau mengarahkan jari telunjuknya tepat ke kedua mataku, sambil berkata ketus: “Kamu mau coba-coba sama saya? Kamu tahu, sekarang yang berkuasa di Angkatan Laut adalah saya! Kamu bukan apa-apa, dan bukan siapa-siapa. Kalau saya mau, besok pagi-pun kamu sudah bisa out dari Angkatan Laut. Jangan kamu kira saya tidak bisa memecat kamu, dst….dst….”
Mendapat murka beliau seperti itu aku bukannya keder, tetapi justru sebaliknya. Terasa sekali darahku merambat naik ke kepala. Tapi aku masih mampu menahan diri. Dengan tatapan benci tanpa mengeluarkan satu patah katapun aku pandang tajam mata beliau. Diam-diam aku mulai ancang-ancang. Pelan-pelan telapak tangan kanan aku kepalkan, siap setiap saat untuk melepaskan bogem mentah. Dalam hati aku mereka-reka, “Coba saja berani menyentuh mukaku, apalagi sampai memukulku, aku pastikan kepalan ini akan langsung melesat tepat ke rahang”. Aku yakin betul akan bisa mengenainya, karena selain waktu di pasukan aku rajin berlatih karate, juga di rumah aku masih rajin
memukul sandsack. Aku tidak sempat berpikir apa akibatnya seandainya hal itu terjadi. Bersyukur aku tidak perlu bertindak sejauh itu. Mungkin karena beliau melihat gelagat nekatku.
Setelah beliau berhenti berbicara dan diam, aku berkata, “Mohon maaf Kasal, saya belum bisa memberikan penjelasan sekarang. Saya mohon waktu paling lama satu minggu, saya akan menghadap Bapak di Jakarta, untuk menjelaskan permasalahannya”.
Kembali ke AAL aku langsung memanggil Dan Denma dan ADC, untuk minta penjelasan duduk perkaranya. Kemudian aku susun ke dalam laporan khusus dalam bentuk kronologi apa yang aku dengar, apa yang aku perintahkan dan apa yang aku kerjakan. Intinya adalah sama ksekali tidak ada kesengajaanku atau siapapun untuk menyabot rencana Kasal, kecuali betul-betul karena memang kami tidak pernah diberi tahu.
Tiga hari setelah kejadian, aku menghadap Kasal di Mabesal. Setelah beliau membaca laporanku dengan cermat, kemudian beliau berkata singkat, kira-kira begini: “Di”, (beliau selalu memanggilku Kasdi), “Anggap saja waktu itu tidak terjadi apa-apa. Mari kita sama-sama melupakan apa yang telah terjadi. Kita semua akhirnya nanti juga akan pensiun, dan itu tidak lama lagi. Dan kalau sudah pensiun yang ada tinggal bagaimana kita saling bersilaturahmi, dst.-”.
Memang tidak ada permintaan maaf, tapi aku tahu apa yang beliau sampaikan adalah tulus. Dan bagiku itu sudah cukup, sehingga dari lubuk hatiku yang paling dalam tanpa harus diminta aku sudah memaafkan beliau.
Sejak itu hubungan kami menjadi jauh lebih baik, meskipun gayanya masih tetap saja gaya khas senior anak ambtenaar perkebunan.
***
(Copas dari buku "Sosok Seorang MARINIR BANYUMAS", Otobiografi Mayjen TNI (Mar) Sudarsono Kasdi)
Jumat, 26 Januari 2018
SAMBUTAN MANTAN KAS KORMAR
BRIGJEN TNI (MAR) SUDARSONO KASDI
PADA ACARA TEMU PISAH
Assalamualaikum, Wr.Wb.,
Yang saya hormati para Sesepuh dan Pinisepuh Korps Marinir,
Mayjen TNI (Mar) Djoko Pramono, Komandan Korps, Kepala Staf,
teman-teman Perwira, ibu-ibu dan undangan lainnya.
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, karena hanya berkat rakhmat dan ridhoNya, kita dapat berkumpul malam ini dalam keadaan sehat walafiat.
Selanjutnya saya ucapkan terima kasih kepada Panitya, yang telah mengikutkan saya pada acara temu-pisah Komandan Korps Marinir, dan memberikan kesempatan kepada saya untuk menyampaikan sepatah dua patah kata, sebelum saya meninggalkan Korps yang saya cintai ini untuk selamanya.
Apa yang akan saya sampaikan ini lebih saya tujukan kepada adik-adik saya, teman-teman Perwira muda Korps Marinir.
Bapak, ibu, dan khususnya teman-teman Perwira muda Korps Marinir yang saya harapkan,
Lebih 27 tahun saya mengabdi di Korps Marinir. Telah banyak yang saya dapatkan dari Korps ini, termasuk menjadikan saya seorang Jenderal.
Selama 27 tahun :
• Berbagai pengalaman telah saya lalui,
• Berbagai suka dan duka telah saya alami
• Berbagai baik dan tidak baik telah saya dapati, dan..
• Berbagai benar dan tidak benar telah saya temui
Melalui berbagai pengalaman tersebut :
• Saya menjadi semakin tau, tetapi tidak mampu memberi tau
• Saya juga semakin mengerti kenapa ada yang tidak pernah bisa mengerti
• Dan saya semakin paham, bahwa banyak hal yang tidak mungkin bisa saya pahami.
Dengan pengalaman yang 27 tahun tadi, saya sendiri tidak tahu apakah saya menjadi semakin bijak atau justru sebaliknya, karena konon, antara bijak dan bodoh hanya dibatasi oleh selaput yang sangat tipis, sehingga hanya kerling mata yang bisa membedakannya.
Teman-teman Perwira muda yang saya harapkan,
Adalah benar bahwa arus globalisasi akan melanda seluruh aspek kehidupan. Namun kita tidak perlu resah, selama kita tetap berpegang pada tonggak idealisme. Karena apapun yang mengglobal pasti sesuatu yang baik – sepanjang kita meninjaunya dari sudut pandang positif.
Yang justru berbahaya adalah dampaknya. Khususnya apabila badai globalisasi ini melanda mereka yang ragu, yang tidak yakin bahwa kita akan mampu tetap tegak, tanpa meliuk. Karena, apabila mereka ini (kebetulan) pemimpin, maka organisasi sesolid apapun akan berubah menjadi serangkaian gerobag sirkus berisi badut-badut yang sangat layak untuk ditertawakan.
Teman-teman Perwira yang saya harapkan.
USMC mengenal 5 tuntunan Korps :
• Faithful to God – Iman kepada Allah
• Faithful to your Country – Bakti kepada Negaramu
• Faithful to the Corps – Mengabdi kepada Korps
• Faithful to your Comerades – Loyal kepada Teman Marinir-mu
• Faithful to Yourself – Hargai Dirimu sendiri
Lima tuntunan tadi, semuanya menyangkut pengabdian dan loyalitas yang bertumpu pada idealisme.
Kita juga mempunyai tuntunan Korps – bahkan 6 butir, yang tidak kalah ideal, mulai dari : ‘Marinir Prajurit Sapta Marga’ sampai ‘Marinir Pasukan Pendarat’.
Pada kesempatan ini saya ingin mengangkat butir yang ke tiga, yaitu :
‘Marinir Bukan Warisan, tetapi Amanat Titipan Generasi’
Saya sengaja mengangkat bitir ini karena relevansinya terhadap situasi lingkungan saat ini, yang sangat sarat dengan dorongan interes yang mampu menyapu harga diri. Butir ini sungguh sangat sakral, dan saya percaya, siapapun yang mendurhakainya akan kualat.
Apa yang sedang saya bicarakan bukanlah masalah sorga dan neraka, tetapi apa yang justru menyangkut masalah tentang fakta yang melanda dunia Korps Marinir yang kita cintai.Saya tau, selagi kita masih aktif berjaya, kita bisa berbuat apa saja,
karena anak buah pasti akan tunduk – atau sekedar menunduk. Tetapi jangan pernah mengira kita akan menyaksikan hal yang sama pada saat kita sudah purnawira nanti. Jangan heran apabila kita berjumpa dengan mantan anak buah, mereka justru menghindar, membuang muka, atau
bahkan meludah di depan kita. Karena itu adalah semata-mata ‘karma’ atas tingkah kita, yang menganggap Korps milik nenek moyangnya.
Untuk itu, pada akhir pengabdian saya di Korps Marinir, saya berharap – harapan seorang kakak kepada adik-adiknya :
• Tetap konsisten kepada niat semula, mengabdi kepada negara melalui Kops Marinir
• Tetap peduli kepada Korps, karena hal itu adalah wujud dari loyalitas yang sebenarnya.
Hanya dengan demikian teman-teman akan mampu menjunjung tinggi amanat generasi, untuk mempertahankan nama besar dan jati diri Korps, yang ‘terlanjur’ diwariskan kepada kita oleh para pendahulu.
Akhirnya, saya pribadi mohon maaf, karena sampai pada akhir pengabdian di Korps Marinir, ternyata tidak mampu mewujudkan harapan teman-teman perwira sekalian.
Saya dan isteri mohon diri,
Dirgahayu Korps Marinir,
Jalesu Bhumyamca Jayamahe
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Jakarta, Desember 1995,
SUDARSONO KASDI
BRIGJEN TNI (MAR)
***
(Copas dari buku "Sosok Seorang MARINIR BANYUMAS", Otobiografi Mayjen TNI (Mar) Sudarsono Kasdi)
Catatan:
Teks sambutan ini tidak jadi aku baca, karena sesaat menjelang dimulai acara aku tidak diberi ijin untuk menyampaikan sambutan perpisahan. Belakangan aku tau kalau teks sambutan yang diketik telah dibocorkan oleh oknum Sekretariat.
BRIGJEN TNI (MAR) SUDARSONO KASDI
PADA ACARA TEMU PISAH
Assalamualaikum, Wr.Wb.,
Yang saya hormati para Sesepuh dan Pinisepuh Korps Marinir,
Mayjen TNI (Mar) Djoko Pramono, Komandan Korps, Kepala Staf,
teman-teman Perwira, ibu-ibu dan undangan lainnya.
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, karena hanya berkat rakhmat dan ridhoNya, kita dapat berkumpul malam ini dalam keadaan sehat walafiat.
Selanjutnya saya ucapkan terima kasih kepada Panitya, yang telah mengikutkan saya pada acara temu-pisah Komandan Korps Marinir, dan memberikan kesempatan kepada saya untuk menyampaikan sepatah dua patah kata, sebelum saya meninggalkan Korps yang saya cintai ini untuk selamanya.
Apa yang akan saya sampaikan ini lebih saya tujukan kepada adik-adik saya, teman-teman Perwira muda Korps Marinir.
Bapak, ibu, dan khususnya teman-teman Perwira muda Korps Marinir yang saya harapkan,
Lebih 27 tahun saya mengabdi di Korps Marinir. Telah banyak yang saya dapatkan dari Korps ini, termasuk menjadikan saya seorang Jenderal.
Selama 27 tahun :
• Berbagai pengalaman telah saya lalui,
• Berbagai suka dan duka telah saya alami
• Berbagai baik dan tidak baik telah saya dapati, dan..
• Berbagai benar dan tidak benar telah saya temui
Melalui berbagai pengalaman tersebut :
• Saya menjadi semakin tau, tetapi tidak mampu memberi tau
• Saya juga semakin mengerti kenapa ada yang tidak pernah bisa mengerti
• Dan saya semakin paham, bahwa banyak hal yang tidak mungkin bisa saya pahami.
Dengan pengalaman yang 27 tahun tadi, saya sendiri tidak tahu apakah saya menjadi semakin bijak atau justru sebaliknya, karena konon, antara bijak dan bodoh hanya dibatasi oleh selaput yang sangat tipis, sehingga hanya kerling mata yang bisa membedakannya.
Teman-teman Perwira muda yang saya harapkan,
Adalah benar bahwa arus globalisasi akan melanda seluruh aspek kehidupan. Namun kita tidak perlu resah, selama kita tetap berpegang pada tonggak idealisme. Karena apapun yang mengglobal pasti sesuatu yang baik – sepanjang kita meninjaunya dari sudut pandang positif.
Yang justru berbahaya adalah dampaknya. Khususnya apabila badai globalisasi ini melanda mereka yang ragu, yang tidak yakin bahwa kita akan mampu tetap tegak, tanpa meliuk. Karena, apabila mereka ini (kebetulan) pemimpin, maka organisasi sesolid apapun akan berubah menjadi serangkaian gerobag sirkus berisi badut-badut yang sangat layak untuk ditertawakan.
Teman-teman Perwira yang saya harapkan.
USMC mengenal 5 tuntunan Korps :
• Faithful to God – Iman kepada Allah
• Faithful to your Country – Bakti kepada Negaramu
• Faithful to the Corps – Mengabdi kepada Korps
• Faithful to your Comerades – Loyal kepada Teman Marinir-mu
• Faithful to Yourself – Hargai Dirimu sendiri
Lima tuntunan tadi, semuanya menyangkut pengabdian dan loyalitas yang bertumpu pada idealisme.
Kita juga mempunyai tuntunan Korps – bahkan 6 butir, yang tidak kalah ideal, mulai dari : ‘Marinir Prajurit Sapta Marga’ sampai ‘Marinir Pasukan Pendarat’.
Pada kesempatan ini saya ingin mengangkat butir yang ke tiga, yaitu :
‘Marinir Bukan Warisan, tetapi Amanat Titipan Generasi’
Saya sengaja mengangkat bitir ini karena relevansinya terhadap situasi lingkungan saat ini, yang sangat sarat dengan dorongan interes yang mampu menyapu harga diri. Butir ini sungguh sangat sakral, dan saya percaya, siapapun yang mendurhakainya akan kualat.
Apa yang sedang saya bicarakan bukanlah masalah sorga dan neraka, tetapi apa yang justru menyangkut masalah tentang fakta yang melanda dunia Korps Marinir yang kita cintai.Saya tau, selagi kita masih aktif berjaya, kita bisa berbuat apa saja,
karena anak buah pasti akan tunduk – atau sekedar menunduk. Tetapi jangan pernah mengira kita akan menyaksikan hal yang sama pada saat kita sudah purnawira nanti. Jangan heran apabila kita berjumpa dengan mantan anak buah, mereka justru menghindar, membuang muka, atau
bahkan meludah di depan kita. Karena itu adalah semata-mata ‘karma’ atas tingkah kita, yang menganggap Korps milik nenek moyangnya.
Untuk itu, pada akhir pengabdian saya di Korps Marinir, saya berharap – harapan seorang kakak kepada adik-adiknya :
• Tetap konsisten kepada niat semula, mengabdi kepada negara melalui Kops Marinir
• Tetap peduli kepada Korps, karena hal itu adalah wujud dari loyalitas yang sebenarnya.
Hanya dengan demikian teman-teman akan mampu menjunjung tinggi amanat generasi, untuk mempertahankan nama besar dan jati diri Korps, yang ‘terlanjur’ diwariskan kepada kita oleh para pendahulu.
Akhirnya, saya pribadi mohon maaf, karena sampai pada akhir pengabdian di Korps Marinir, ternyata tidak mampu mewujudkan harapan teman-teman perwira sekalian.
Saya dan isteri mohon diri,
Dirgahayu Korps Marinir,
Jalesu Bhumyamca Jayamahe
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Jakarta, Desember 1995,
SUDARSONO KASDI
BRIGJEN TNI (MAR)
***
(Copas dari buku "Sosok Seorang MARINIR BANYUMAS", Otobiografi Mayjen TNI (Mar) Sudarsono Kasdi)
Catatan:
Teks sambutan ini tidak jadi aku baca, karena sesaat menjelang dimulai acara aku tidak diberi ijin untuk menyampaikan sambutan perpisahan. Belakangan aku tau kalau teks sambutan yang diketik telah dibocorkan oleh oknum Sekretariat.
KORBAN REKAYASA (1996)
Suatu hari aku mendapat tilpon dari Brigjen TNI Adam Damiri, Kasgartap Jakarta yang kebetulan aku kenal baik, menyampaikan
bahwa dari hasil rapat petinggi TNI di Jakarta, pada upacara Hari ABRI tanggal 5 Oktober 1996 yang akan diselenggarakan di Halim PK. Komandan Upacara akan ditunjuk seorang Pati bintang dua Korps Marinir. Oleh karena itu beliau mengatakan bahwa aku ditunjuk sebagai salah satu calon Komandan Upacara. Aku kemudian bertanya siapa saja calonnya. Kasgar menjawab bahwa yang paling mungkin hanya Gubernur AAL dan Dan Kormar. Langsung saat itu juga aku katakan “Tidak!” Ada suara kecewa terdengar dari ujung tilpon. “Adam” kataku, “jangan lagi tunjuk aku untuk kalian kerjain kayak orang bego!” kataku pula. “Aku tahu penunjukkanku ini hanya rekayasa, sama seperti yang pernah terjadi pada tahun 1992 dimana anda tahu persis”. Pada waktu itu Kol Adam Damiri menjabat sebagai Asops Kasgartap Jakarta.
“Kemudian terulang pada tahun 1994 yang lalu” kataku melanjutkan. “Kalau yang dicari Marinir bintang dua, di Mabesal masih ada, yaitu Koorsahli Kasal Mayjen Mar Gafur Chalik, dan Irjenal Mayjen Mar Djoko Pramono. Sampai saat ini sakit hatiku masih belum sembuh Adam,!” kataku menjelaskan alasanku.
Pada Upacara Hari ABRI yang akan diselenggarakan di Lapangan Parkir Timur Senayan, dari hasil seleksi calon DanUp terpilih masing-masing satu dari tiap Angkatan dan Polri, yaitu : Kol.Inf. Johny Lumintang, Kol Pnb. Zaenal Sudarmadji, Kol. Pol. Drs. Soehardi, dan aku sendiri. Dari beberapa kali latihan yang diselenggarakan sampai tahap geladi bersih, seorang pelatih berpangkat Mayor TNI-AD (aku lupa namanya, kalau tidak salah Simanjuntak atau Simorangkir, pokoknya nama Batak he..he), memberitahuku bahwa menurut penilaian dan pertimbangan para pelatih akulah yang diusulkan menjadi DanUp.
Namun ternyata pada pagi tanggal 5 Oktober, Kasgartap memanggil dan memberitahuku bahwa aku tidak terpilih menjadi DanUp dengan alasan terlalu gemuk. Karena itu yang menjadi DanUp ditetapkan Kol.Inf. Johny Lumintang. Pada waktu itu Johny Lumintang memang menjadi salah satu Pamen andalan TNI-AD.
Tentu aku kecewa, sampai aku terpaksa minta maaf atas kegagalanku dalam memperjuangkan nama Korps kepada Dan Kormar Mayjen TNI Baroto Sardadi yang beberapa kali memantau jalannya latihan. Namun jawaban beliau mendinginkan hatiku, “Kamu tidak perlu minta maaf Kasdi, karena aku tau yang ditunjuk pasti dari Angkatan Darat, bukan kamu. Kecuali kalau dia tiba-tiba pingsan atau muntah darah !”
Aku tersenyum mendengar candaan beliau.
Kemudian pada Upacara Hari ABRI tahun 1994, dimana pembaca Saptamarga ditunjuk Pati bintang satu. Pada waktu itu juga terpilih masing-masing satu dari Angkatan dan Polri, yaitu : Brigjen TNI Subagyo, Marsma TNI Nuringtyas, Brigjen Pol. Drs.Pamudji Sutopo, dan aku. Pada gladi bersih yang dilaksanakan dua kali hanya Brigjen Subagyo dan aku saja yang tampil. Kebetulan pada penampilan Brigjen Subagyo terjadi kesalahan ucapan pada salah satu Marga, sehingga harus diulang. Pembina Upacara pada waktu itu memberitauku agar aku besok siap untuk tampil pada saat Upacara, karena mereka tidak mau mengambil resiko salah pada pelaksanaan yang sebenarnya di depan Presiden.
Tetapi ternyata pada hari pelaksanaan yang diperintahkan tampil adalah Brigjen TNI Subagyo yang pada saat itu menjabat sebagai Dan Kopassus. Kali ini aku hanya tersenyum. Ternyata sinyalemen bapak Baroto Sardadi terbukti lagi.
Nah sekarang Kasgartap Jakarta minta aku bersama Dan Kormar menjadi calon DanUp. Aku sudah bisa menduga, adalah tidak mungkin upacara Hari ABRI yang DanUp-nya tahun itu diserahkan kepada Pati Korps Marinir akan ditampilkan Gubernur AAL. Tidak bisa tidak pasti Dan Kormar. Sebab pantas atau tidak pantas, baik atau tidak baik, keliru atau tidak keliru, bagi TNI-AD nothing to lose. Itulah sebabnya aku menolak mentah-mentah, apalagi ini baru pemberitahuan via telpon dari Kasgartap.
Tetapi dengan sangat Kasgartap terus menerus memohon agar aku mau membantu beliau untuk bersedia menjadi calon DanUp. Akhirnya, karena Brigjen Adan Damiri adalah salah satu teman baikku, dengan berat hati terpaksa aku mengalah, untuk kemudian bersedia menjadi pendamping DanUp.
***
(Copas dari buku "Sosok Seorang MARINIR BANYUMAS", Otobiografi Mayjen TNI (Mar) Sudarsono Kasdi)
Suatu hari aku mendapat tilpon dari Brigjen TNI Adam Damiri, Kasgartap Jakarta yang kebetulan aku kenal baik, menyampaikan
bahwa dari hasil rapat petinggi TNI di Jakarta, pada upacara Hari ABRI tanggal 5 Oktober 1996 yang akan diselenggarakan di Halim PK. Komandan Upacara akan ditunjuk seorang Pati bintang dua Korps Marinir. Oleh karena itu beliau mengatakan bahwa aku ditunjuk sebagai salah satu calon Komandan Upacara. Aku kemudian bertanya siapa saja calonnya. Kasgar menjawab bahwa yang paling mungkin hanya Gubernur AAL dan Dan Kormar. Langsung saat itu juga aku katakan “Tidak!” Ada suara kecewa terdengar dari ujung tilpon. “Adam” kataku, “jangan lagi tunjuk aku untuk kalian kerjain kayak orang bego!” kataku pula. “Aku tahu penunjukkanku ini hanya rekayasa, sama seperti yang pernah terjadi pada tahun 1992 dimana anda tahu persis”. Pada waktu itu Kol Adam Damiri menjabat sebagai Asops Kasgartap Jakarta.
“Kemudian terulang pada tahun 1994 yang lalu” kataku melanjutkan. “Kalau yang dicari Marinir bintang dua, di Mabesal masih ada, yaitu Koorsahli Kasal Mayjen Mar Gafur Chalik, dan Irjenal Mayjen Mar Djoko Pramono. Sampai saat ini sakit hatiku masih belum sembuh Adam,!” kataku menjelaskan alasanku.
Pada Upacara Hari ABRI yang akan diselenggarakan di Lapangan Parkir Timur Senayan, dari hasil seleksi calon DanUp terpilih masing-masing satu dari tiap Angkatan dan Polri, yaitu : Kol.Inf. Johny Lumintang, Kol Pnb. Zaenal Sudarmadji, Kol. Pol. Drs. Soehardi, dan aku sendiri. Dari beberapa kali latihan yang diselenggarakan sampai tahap geladi bersih, seorang pelatih berpangkat Mayor TNI-AD (aku lupa namanya, kalau tidak salah Simanjuntak atau Simorangkir, pokoknya nama Batak he..he), memberitahuku bahwa menurut penilaian dan pertimbangan para pelatih akulah yang diusulkan menjadi DanUp.
Namun ternyata pada pagi tanggal 5 Oktober, Kasgartap memanggil dan memberitahuku bahwa aku tidak terpilih menjadi DanUp dengan alasan terlalu gemuk. Karena itu yang menjadi DanUp ditetapkan Kol.Inf. Johny Lumintang. Pada waktu itu Johny Lumintang memang menjadi salah satu Pamen andalan TNI-AD.
Tentu aku kecewa, sampai aku terpaksa minta maaf atas kegagalanku dalam memperjuangkan nama Korps kepada Dan Kormar Mayjen TNI Baroto Sardadi yang beberapa kali memantau jalannya latihan. Namun jawaban beliau mendinginkan hatiku, “Kamu tidak perlu minta maaf Kasdi, karena aku tau yang ditunjuk pasti dari Angkatan Darat, bukan kamu. Kecuali kalau dia tiba-tiba pingsan atau muntah darah !”
Aku tersenyum mendengar candaan beliau.
Kemudian pada Upacara Hari ABRI tahun 1994, dimana pembaca Saptamarga ditunjuk Pati bintang satu. Pada waktu itu juga terpilih masing-masing satu dari Angkatan dan Polri, yaitu : Brigjen TNI Subagyo, Marsma TNI Nuringtyas, Brigjen Pol. Drs.Pamudji Sutopo, dan aku. Pada gladi bersih yang dilaksanakan dua kali hanya Brigjen Subagyo dan aku saja yang tampil. Kebetulan pada penampilan Brigjen Subagyo terjadi kesalahan ucapan pada salah satu Marga, sehingga harus diulang. Pembina Upacara pada waktu itu memberitauku agar aku besok siap untuk tampil pada saat Upacara, karena mereka tidak mau mengambil resiko salah pada pelaksanaan yang sebenarnya di depan Presiden.
Tetapi ternyata pada hari pelaksanaan yang diperintahkan tampil adalah Brigjen TNI Subagyo yang pada saat itu menjabat sebagai Dan Kopassus. Kali ini aku hanya tersenyum. Ternyata sinyalemen bapak Baroto Sardadi terbukti lagi.
Nah sekarang Kasgartap Jakarta minta aku bersama Dan Kormar menjadi calon DanUp. Aku sudah bisa menduga, adalah tidak mungkin upacara Hari ABRI yang DanUp-nya tahun itu diserahkan kepada Pati Korps Marinir akan ditampilkan Gubernur AAL. Tidak bisa tidak pasti Dan Kormar. Sebab pantas atau tidak pantas, baik atau tidak baik, keliru atau tidak keliru, bagi TNI-AD nothing to lose. Itulah sebabnya aku menolak mentah-mentah, apalagi ini baru pemberitahuan via telpon dari Kasgartap.
Tetapi dengan sangat Kasgartap terus menerus memohon agar aku mau membantu beliau untuk bersedia menjadi calon DanUp. Akhirnya, karena Brigjen Adan Damiri adalah salah satu teman baikku, dengan berat hati terpaksa aku mengalah, untuk kemudian bersedia menjadi pendamping DanUp.
***
(Copas dari buku "Sosok Seorang MARINIR BANYUMAS", Otobiografi Mayjen TNI (Mar) Sudarsono Kasdi)
Rabu, 24 Januari 2018
BATAL KARENA MEMEGANG PRINSIP (1996)
Setelah aku menjabat sebagai Kas Kormar hampir satu tahun, pada suatu hari setelah sholat Jum’at, aku dipanggil menghadap komandan di ruang kerja beliau..
Setelah aku duduk, beliau menyampaikan bahwa hari Senin lusa akan ada sidang Dewan Penempatan Jabatan Perwira Tinggi (Wanpatjab “A”) yang akan membahas rencana penggantian beberapa jabatan teras TNI-AL. Beliau menyampaikan bahwa namaku sudah masuk di dalam buku merah dan menjadi satu2nya calon untuk jabatan Dan Kormar. Buku merah adalah istilah untuk buku daftar nominasi personil bersifat rahasia, yang akan dibahas di dalam sidang Wanpatjab.
Selanjutnya panjang lebar beliau memberikan pesan dan nasihatnya, sebagai bekal bagiku pada saatnya nanti apabila aku sudah menjadi Dan Kormar. Pesan-pesan beliau pada umumnya baik meski cenderung normatif. Namun pada penghujung pesannya beliau memberikan arahan yang bukan lagi dapat dikatakan normatif.
Inti pengarahan beliau kepadaku kurang lebih demikian :
“Sebagai Dan Kormar kamu tidak boleh memegang prinsipmu sendiri, tetapi sebaliknya harus pandai melihat situasi. Oleh karena itu kamu sebagai adikku, yang insyaallah sebentar lagi akan menggantikanku, aku ingin berpesan.
Pertama: Ada prinsip yang dianut orang Cina ‘Jadilah seperti ilalang di atas bukit’. Betapapun besar badai bertiup ilalang tak akan tercabut, kenapa? Karena kemanapun badai bertiup ilalang selalu ikut. Tetapi demikian badai mereda ilalang akan tegak kembali dengan megahnya.
Kedua: ‘Kamu harus bisa ibaratnya seperti bunglon’, karena dimanapun bunglon berada pasti segera berubah warna, menyesuaikan diri dengan warna lingkungannya. Ketiga : ‘Dunia ini adalah panggung sandiwara’, artinya bahwa kita semua ini adalah sekedar aktor yang dikendalikan oleh sutradara. Kita hanyalah pemain yang memainkan peran yang sudah diatur oleh sutradara sesuai skenario yang sejalan dengan alur cerita yang dikehendaki oleh produser”.
Mendengar apa yang dikatakan komandan seperti itu jantungku terasa berdetak lebih kuat dan darah mengalir naik dengan cepat menuju ke kepala. Aku marah sekaligus kecewa. Tidak tahu kenapa aku betul-betul merasa terhina. Aku merasa seolah disamakan dengan orang yang memiliki sifat seperti itu.
Kemudian beliau menghentikan ucapannya. Mungkin beliau melihat perubahan di wajahku.
Suasana hening sejenak.
Dengan nada suara yang sedikit bergetar aku katakan demikian:
“Kalau komandan menghendaki Dan Kormar adalah orang yang seperti itu, jangan tunjuk saya, karena saya bukan manusia sejenis itu. Komandan cari saja orang lain yang bisa melaksanakan arahan komandan!”
Kontan wajah beliau mendadak menjadi merah, sebentar kemudian berubah menjadi pucat dan tangannya bergetar. Mungkin menahan marah, atau malu, karena tidak menduga arahannya akan aku tanggapi demikian.
Setelah beberapa menit tidak ada yang berbicara kecuali saling memandang dengan perasaannya masing-masing, akhirnya beliau mempersilahkan aku keluar dari ruang kerja beliau.
Beberapa minggu kemudian turun Surat Telegram Kasal yang diantaranya berisi pergantian jabatan Dan Kormar, yang ternyata memang bukan aku.
***
(Copas dari buku "Sosok Seorang MARINIR BANYUMAS", Otobiografi Mayjen TNI (Mar) Sudarsono Kasdi)
Setelah aku menjabat sebagai Kas Kormar hampir satu tahun, pada suatu hari setelah sholat Jum’at, aku dipanggil menghadap komandan di ruang kerja beliau..
Setelah aku duduk, beliau menyampaikan bahwa hari Senin lusa akan ada sidang Dewan Penempatan Jabatan Perwira Tinggi (Wanpatjab “A”) yang akan membahas rencana penggantian beberapa jabatan teras TNI-AL. Beliau menyampaikan bahwa namaku sudah masuk di dalam buku merah dan menjadi satu2nya calon untuk jabatan Dan Kormar. Buku merah adalah istilah untuk buku daftar nominasi personil bersifat rahasia, yang akan dibahas di dalam sidang Wanpatjab.
Selanjutnya panjang lebar beliau memberikan pesan dan nasihatnya, sebagai bekal bagiku pada saatnya nanti apabila aku sudah menjadi Dan Kormar. Pesan-pesan beliau pada umumnya baik meski cenderung normatif. Namun pada penghujung pesannya beliau memberikan arahan yang bukan lagi dapat dikatakan normatif.
Inti pengarahan beliau kepadaku kurang lebih demikian :
“Sebagai Dan Kormar kamu tidak boleh memegang prinsipmu sendiri, tetapi sebaliknya harus pandai melihat situasi. Oleh karena itu kamu sebagai adikku, yang insyaallah sebentar lagi akan menggantikanku, aku ingin berpesan.
Pertama: Ada prinsip yang dianut orang Cina ‘Jadilah seperti ilalang di atas bukit’. Betapapun besar badai bertiup ilalang tak akan tercabut, kenapa? Karena kemanapun badai bertiup ilalang selalu ikut. Tetapi demikian badai mereda ilalang akan tegak kembali dengan megahnya.
Kedua: ‘Kamu harus bisa ibaratnya seperti bunglon’, karena dimanapun bunglon berada pasti segera berubah warna, menyesuaikan diri dengan warna lingkungannya. Ketiga : ‘Dunia ini adalah panggung sandiwara’, artinya bahwa kita semua ini adalah sekedar aktor yang dikendalikan oleh sutradara. Kita hanyalah pemain yang memainkan peran yang sudah diatur oleh sutradara sesuai skenario yang sejalan dengan alur cerita yang dikehendaki oleh produser”.
Mendengar apa yang dikatakan komandan seperti itu jantungku terasa berdetak lebih kuat dan darah mengalir naik dengan cepat menuju ke kepala. Aku marah sekaligus kecewa. Tidak tahu kenapa aku betul-betul merasa terhina. Aku merasa seolah disamakan dengan orang yang memiliki sifat seperti itu.
Kemudian beliau menghentikan ucapannya. Mungkin beliau melihat perubahan di wajahku.
Suasana hening sejenak.
Dengan nada suara yang sedikit bergetar aku katakan demikian:
“Kalau komandan menghendaki Dan Kormar adalah orang yang seperti itu, jangan tunjuk saya, karena saya bukan manusia sejenis itu. Komandan cari saja orang lain yang bisa melaksanakan arahan komandan!”
Kontan wajah beliau mendadak menjadi merah, sebentar kemudian berubah menjadi pucat dan tangannya bergetar. Mungkin menahan marah, atau malu, karena tidak menduga arahannya akan aku tanggapi demikian.
Setelah beberapa menit tidak ada yang berbicara kecuali saling memandang dengan perasaannya masing-masing, akhirnya beliau mempersilahkan aku keluar dari ruang kerja beliau.
Beberapa minggu kemudian turun Surat Telegram Kasal yang diantaranya berisi pergantian jabatan Dan Kormar, yang ternyata memang bukan aku.
***
(Copas dari buku "Sosok Seorang MARINIR BANYUMAS", Otobiografi Mayjen TNI (Mar) Sudarsono Kasdi)
SILENT HEART ATTACK (2010)
Sebetulnya kejadiannya sudah beberapa tahun lalu, tapi ternyata aku masih sering ditanya teman gimana critanya? Karena itu tulisan yang sdh pernah aku posting di grup imel setahun sebelumnya, aku muat di notes fb-ku. Sapa tau ada manfaatnya .. setidaknya untuk meningkatkan awareness manteman atas ancaman jantungan yang bs tiba2 nyeruduk begitu saja ...
*****
SILENT HEART ATTACK – Sebuah Testimoni
Beberapa minggu sebelumnya kalo tidur miring ke kiri trasa denyut jantungku bedebar lebih keras. Pokoke gaenak lah ..... tapi tak biarin :)
Beberapa hari lalu kalo lagi duduk nonton teve pada malem menjelang tidur, kadang, dada/jantung trasa tertekan .. tapi sbentar ilang .... tak biarin juga :))
Pas malem minggu (01/05/2010) skitar pkl 23:00 jantung trasa ketekan lagi .... sampe ketiduran. Tapi besoknya, begitu bangun rasa keteken itu masih ada. Aku mikir ini mesti ada apa2 …….. !!!!
Aku trus idupin PC untuk brosing di internet mo nanya mbah Google ada masalah apa sebenarnya dengan dadaku. Ternyata jawabannya begini :
“Pain is not always a symtom of heart attack. A heart attack often mild symptoms that may not be painfull. Many fictims experience a tightness or squeezing sensation in the chest. Get emergency medical help immediately if you experience for two minute or more…..”
Trus terang aku terperangah. Celakanya di rumah saat itu gada orang, soale anakku Cuno sejak tadi malem jaga di RSCM, mantu pagi2 sdh brangkat ‘magang’ di RS Jantung Harapan Kita dlm rangka persiapan pendidikan spesialis jantung, dan bojo barusan brangkat brenang di Villa Delima.
Pelan2 aku brangkat mandi buwat ngebersihin badan biar kalo dipriksa gak bau apek .. he he. Pintunya gak tak konci, siap2 teriak kalo tiba2 dateng serangan. Abis pakean aku lantas duduk di teras (salah satu protap serangan jantung, biar kalo ada apa2 ada yang ngliat), sambil nunggu bojo pulang. Kebetulan kok ga lama. Katanya sih ada rasa ga enak jadi brenangnya cuma sbentar, ga pake mandi langsung pulang. Mbuh bener mbuh ora tapi aku ya percaya aja, wong namanya istri lagi perhatian sama suami kok ya .... he he !.
Langsung aku minta istri temenin aku ke UGD RS Puri Cinere yang skarang sudah punya cardiac center “Hospital Cinere”.
Di UGD, aku ditanya sakit apa? Begitu aku bilang dada rasa tertekan langsung aku ditidurin di brankar(?) dipasangin sgala macem tetekbengek alat kesehatan (kalo ada yang ga bengek mungkin masih bagusan he he..). Di hidung ada pipa oksigeen, di skitar dada, kaki dan tangan ditempelin banyak kabel dan diketek diselipin termometer. Tekanan darah diukur dari kedua lengan. Di tangan kiri dipasangin infus, dan dari tangan kanan darahku disedot, katanya buat dikirim ke lab.
Trus terang aku lumayan bingung, wong aku belon bilang apa2 kok udah diperkosa disuruh ngikutin apa maunya. Mreka bilang itu adalah tidakan SOP penanganan serangan Jantung.
Tak brapa lama dokter jantungnya, dr Hera, dateng. Aku ditanya mana yang sakit aku bilang ga ada, kecuali rasa ketekan di dada kiri. Dia masih nanya mungkin sakit di dada, di punggung, di tangan, ato di dagu ? aku bilang pokoke kaga ada yang sakit. Dia colokin ujung stetoskop ke seantero dada dan peruku. Geli juga sih tapi aku tahan.
Mantuku yang ternyata sdh dikasitau, nelpon bojoku, nanya sapa dokter yang nanganin. Begitu dibilang dr. Hera, mantuku bilang, dr.Ismoyo SpJP, dosen pembimbingnya, mau ngomong sama dr.Hera. Gatau apa yang mereka bicarakan, tapi kemudian mantuku bilang besok kita disuruh pindah ke RS khusus jantung Bina Waluya di Pasar Rebo, biar ditangani oleh dr.Munawar,SpJP yang katanya sudah dikontak dr.Ismoyo.
Dr Munawar itu konon termasuk salah satu dr. jantung terbaik di negri ini. Sewaktu pak Harto sakit dia juga yang sering mewakiti tim dokter njelasin perkembangan (penyusutan?) kesehatan pak Harto kepada wartawan. Tapi kenyataannya pak Harto dood juga … he he .
Tak lama kemudian dr Hera-nya pergi gatau ke mana.
Sekitar stengah jam aku dibiarin begitu. Untungnya tiba2 saja konco lichtingku yang biasa dipanggil srs Imot masuk ke UGD. Dia bilang lagi jalan pagi, ngeliat mobilku di depan RS Puri Cinere, jadi pengen tau ada apa? Lantas blionya ketemu bojoku yang lagi ngurus pendaftaran. Jadinya ada temen deh…
Lantaran belon sarapan sama skali, perut mulai trasa lapar. Aku panggil perawat buat mesen dua porsi bubur ayam. Bedua kami makan bubur di UGD dengan segala macem selang dan kabel masih nempel di badan.
Skitar satu jam kemudian aku digeredek ke ICU jantung. Tiap jam dicek EKG dan tekanan darah otomatis yang langsung bisa diliat angka dan grafik denyutnya di monitor. Hari itu aku betul2 di paksa tiduran, bahkan pipispun di pispot. Padahal rasanya aku gada trasa sakit apa2. Mana tempat tidurnya gak enak lagee …
Malemnya konco lichtingku yang laen, kang Ngumar sama mantan pacarnya bezoek. Rupanya bojoku memang sempet nelpon kang Ngumar, berkait dengan permasalahan jantungan. Soale belionya kan termasuk senior/alumnus korban jantungan, sehingga diharap akn dapat ngasih pencerahan. Blio bilang kaga apa2 soale bebrapa kali hasil pemeriksaan enzym negatip. Dokter juga bilang begitu tapi buat mastiin dokter bilang besok mo di MSCT (Multi Slice Computed Tomography) - scanning buat motret jantung 3 dimensi dari berbage sisi. Tapi aku bilang besok mau pindah ke RS BinaWaluya. Dr Hera bilang sbetulnya gak perlu, soale di RS Puri smua peralatan selain lengkap juga mutakhir/canggih. Aku bilang aja yang minta dr. Ismoyo kok, dan bahkan kamarnya sdh disiapin sama dr.Munawar. Dr. Hera ga bisa komen apa2, soale dia juga mantan muridnya dr.Ismoyo dan dr.Munawar.
Sebetulnya ada motip lain knapa pindah, yaitu lantaran RS Puri ga bisa pake Askes, sementara RS Bina Waluya bisa.
Malem aku ga bisa tidur. Bukan lantaran jantungnya sakit. tapi lebih karena keganggu selang infus dan kabel2 monitor alat ukur tekanan darah yang masih nempel di badan. Mana kasur dan bantalnya juga ga enak.
Paginya dokter lain, dr. Farid, dateng. Dia bilang pindahnya gausah pake ambulan, tapi pake mobil sendiri saja, wong hasil tindakan sementara itu gada masalah. Dia juga bilang nanti yang dampingin biar dr.Cuno saja, yang notabene adalah anakku. Surat pengantarnya saja nanti dia siapin. Aku bilang oke gapapa. Aku malahan seneng soale bisa pulang dulu buat mandi, buang air, ganti baju dan sarapan.
Setelah bayar biaya yang lumayan gede aku pulang.
…………………………
Skitar pkl 11:00 diantar istri, anak dan mantu aku masuk UGD BinaWaluya. Prosedur yang mirip sama dilakukan juga di sini. Hasilnya juga meh sama. EKG dan tekanan darah oke, enzym negatip. Dr. Munawar bilang nanti akan dilakukan tindakan MSCT buat mastiin. Dia bilang kalo hasilnya baik - seperti dugaannya – aku bisa langsung pulang.
Ternyata hasil scan meragukan. Sepertinya ada sesuatu yang berbeda dengan kesimpulan hasil pemeriksaan EKG, ronsen thorax dan pemriksaan enzym. Dr. Munawar bilang terpaksa akan dilakukan kataterisasi buat ngeliat apakah ada penyempitan koroner. Tapi waktunya ga perlu segra. Dia jadwal hari Rabu minggu depan (12/05/2010)
Malemnya skitar pkl 11:00 setlah nyelesein administrasi aku pulang. Sama skali gada pembayaran karna smua katanya bisa dikaver Askes.
Besok paginya aku ditilpon staf RS yang ngurusin Askes. Dia bilang Askesnya ga berlaku soale aku langsung pulang, ga nginep, jadi dianggepnya ga gawat. Weleh .. weleh.. Aku bilang apa sih sulitnya tinggal kluarnya di mundurin?
Setlah beradu argumen lumayan cukup lama, akhirnya Ny. Munawar, Kabag Keuangan, yang notabene adalah istri bos RS, mutusin hari itu aku harus kembali ke RS, dan kateterisasi dilaksanakan Rabu esok harinya. Aku nanya apa dr.Munawar sdh setuju? Dengan enteng dia jawab “bisa diselipin”. Bahkan dia bilang, “bpk nanti giliran ke dua”.
Besoknya aku baru tau ternyata ibu Munawar ini memang yang banyak berperan dalam me-menej RS termasuk ngatur apa yang hrs dilakukan sang suami. Presis sperti yang banyak terjadi di lingkungan keluarga pangsiunan Moro Embe .. he he .. !!
Jadilah sorenya aku balik masuk RS.
Rabu tanggal 05/05/2010 pkl 07:30 aku digredek masuk ruang oprasi. Pelaksananya dr. Munawar dibantu dr.Benny dan bebrapa tenaga medik. Kateter dimasukan lewat pangkal paha, lantaran katanya jantungku rada aneh saengga kagak bisa via pergelangan tangan. Buat aku sih terserah pakar saja..
Ternyata keanehan jantungku betul2 aneh dalam arti yang sebenarnya karna berbeda dengan jantung manusia biasanya. Dr Munawar pake istilah ‘anomali’. Aku jadi ragu apa aku ini masih termasuk jenis manusia ato bukan. Ato jangan2 justru mereka semua yang bukan manusia … he he. !
Mungkin keanehan ini akhirnya tersiar, soale kemudian banyak dokter yang ikut nimbrung, ngariung nonton, baik di ruang monitor maupun langsung masuk ke ruang operasi.
Upaya kateterisasi dicoba bebrapa kali tetep ga bisa. Aku sampe nanya, “sebetulnya ada apa sih dok?” Dijawab “belum ketemu, saluran arteri jantungnya ada kelainan, anomali”. Sambil becanda aku tanya apa jantungnya masih ada? Ternyata dijawab juga, “masih, jangan kuatir”. Smua yang ngariung pada ketawa.
Sampe 6 kali ‘kabel kateter’nya diganti dengan berbage tipe dan ukuran, baru dr Benny setengah teriak : “At Last..!!”. Aku tanya lagi ada apa? Dijawab bahwa sudah ketemu. Tapi itupun mreka bilang melalui modifikasi. Hasilnya?
Sungguh mengejutkan.
Ternyata ada penyempitan (stenosis) di dua cabang arteri kiri masing2 sebesar 90% dan 70%. Setelah dokter koordinasi dengan bojo utk jenis stent (ring?) yang dipilih, akhirnya di saluran arteri kiri jantungku dipasang 2 stent : stent DES Cyper 2.75x13mm, dan stent DES Cyper 2.5x23mm.
Akhirnya proses kateterisasi yang biasanya hanya ½ sampe 1 jam, kali ini memakan waktu 2 jam (pkl 08:00 – 10:00) baru kelar.
………………………
Sebetulnya apa sih maksudku crita ini smua?
Begini..
Yang pertama. Ternyata Olah Raga saja tidak bisa menjamin kita terhindar dari serangan jantung.
Aku kira temen2 lichting AAL rayon Jaksel tahu presis kalo aku termasuk yang sangat aktif olah raga buat jaga kesehatan. Sebelum clubhouse Villa Cinere terbakar aku berenang hampir tiap hari, pake fin rata2 50 x panjang kolam @ 50 meter tanpa brenti. Pada waktu HUT AAL ke 50 aku bahkan sempat ikut brenang lintas selat Madura yang konon lebarnya skitar 4.5 mil.
Setlah clubhouse terbakar dan kolam ditutup aku ganti olahraga jalan cepat di treadmill (kebetulan di rumah ada ruang fitness) dengan kecepatan 5.5 – 6 km selama ½ - 1 jam. Beban ditambah dengan naikin sudut tanjakan. Abis itu aku narik-2 beban 10 keping (total skitar 45 kg?) masing2 gerakan 20 x tarikan. Abis itu aku misih angkat barble 9 kg. Pada menjelang tidur aku masih perlukan angkat barble yang ada di kamar tidur @ 6kg.
Itu smua aku kerjakan hampir setiap hari.
Kalo kebetulan nganter anakku yang bontot kuliah, aku langsung jalan keliling kampus UI Depok selama paling sedikit 1 jam. Kang Imam, koncoku satu lichting pernah dua kali ikut tapi kemudian mundur tanpa sebab.
Aku crita ini bukan mau nyombong, tapi justru sebaliknya. Wong aku yang sudah berusaha – boleh dibilang maksimal – saja ternyata masih terkena serangan jantung, dan nyaris fatal.
Bayangkan kalo tiba2 kebuntuannya ningkat jadi 100%? Ya usai sudah lah … he he..
Trus bagemana dengan yang kaga ato kurang berusaha?.
Oke mungkin memang ada faktor genetika, tapi kan sapa yang tau presis penyakit kakek ato cicit kita?
Yang ke dua. Ternyata serangan jantung tidak slalu pake aba2. Ga pake bilang2 dia. Bayangin aku selama itu ga pernah terasa apa2 kok tiba2 dalam tempo yang relatif singkat menyerang dan hampir fatal. Padahal skitar 5 bulan lalu aku tes treadmill di RSAL, hasilnya exellent.
Yang ke tiga. Ternyata sakit jantung itu muahaaall. Bayangkan brapa biaya semua itu kemarin yang cuma selama 4 hari (Minggu – Kamis)? Sama dengan pendapatan pangsiunan bintang dua selama 4 tahun bo … . Itu betul kang, aku ga bohong. Untungnya yang 40 jt dibayar askes
Belum lagi setelah operasi ini, aku harus minum obat selama hayat dikandung badan, ga boleh putus. Mana harga obatnya juga bukannya murah lagee … (skitar Rp.40.000 / hari)
…………………………
Nah, setlah baca truestory yang cukup panjang, sila mentemen pada mulai mikir CB / CA (Cara Bertindak/ Course of Action) apa yang akan dilaksanakan baik oleh sendiri ato kluarga, kalo kejadian yang sperti ini terjadi pada diri mentemen. Pasti smua tidak menghendaki, tapi siapa tau .. ;(
Pikirkan juga tindakan preventipnya.
Dari pengalamanku selama ini, kayaknya kesalahanku lantaran terlalu ngabaikan tingkat kolestrol darah, yang dari dulu hampir slalu diatas 250.
Olah raga, paling tidak buat aku, sama sekali tidak bisa nurunin tingkat kolesterol.
Tingkat LDLku juga slalu tinggi, jauh diatas tingkat ideal 70. Sebaliknya HDL terlalu rendah.
Konon penyebabnya adalah rokok. Soalnya - kata yang ngerti – rokok akan menahan tingkat HDL (kolestrol baik) tetap rendah ga akan bisa naik.
Aku juga masih berharap mudah2an mulai skarang bisa brenti merokok .. he he ..
……………………………………..
Trims sudah ikut baca, mudah2an manfaat...
/esKa. 05/06/10
Sebetulnya kejadiannya sudah beberapa tahun lalu, tapi ternyata aku masih sering ditanya teman gimana critanya? Karena itu tulisan yang sdh pernah aku posting di grup imel setahun sebelumnya, aku muat di notes fb-ku. Sapa tau ada manfaatnya .. setidaknya untuk meningkatkan awareness manteman atas ancaman jantungan yang bs tiba2 nyeruduk begitu saja ...
*****
SILENT HEART ATTACK – Sebuah Testimoni
Beberapa minggu sebelumnya kalo tidur miring ke kiri trasa denyut jantungku bedebar lebih keras. Pokoke gaenak lah ..... tapi tak biarin :)
Beberapa hari lalu kalo lagi duduk nonton teve pada malem menjelang tidur, kadang, dada/jantung trasa tertekan .. tapi sbentar ilang .... tak biarin juga :))
Pas malem minggu (01/05/2010) skitar pkl 23:00 jantung trasa ketekan lagi .... sampe ketiduran. Tapi besoknya, begitu bangun rasa keteken itu masih ada. Aku mikir ini mesti ada apa2 …….. !!!!
Aku trus idupin PC untuk brosing di internet mo nanya mbah Google ada masalah apa sebenarnya dengan dadaku. Ternyata jawabannya begini :
“Pain is not always a symtom of heart attack. A heart attack often mild symptoms that may not be painfull. Many fictims experience a tightness or squeezing sensation in the chest. Get emergency medical help immediately if you experience for two minute or more…..”
Trus terang aku terperangah. Celakanya di rumah saat itu gada orang, soale anakku Cuno sejak tadi malem jaga di RSCM, mantu pagi2 sdh brangkat ‘magang’ di RS Jantung Harapan Kita dlm rangka persiapan pendidikan spesialis jantung, dan bojo barusan brangkat brenang di Villa Delima.
Pelan2 aku brangkat mandi buwat ngebersihin badan biar kalo dipriksa gak bau apek .. he he. Pintunya gak tak konci, siap2 teriak kalo tiba2 dateng serangan. Abis pakean aku lantas duduk di teras (salah satu protap serangan jantung, biar kalo ada apa2 ada yang ngliat), sambil nunggu bojo pulang. Kebetulan kok ga lama. Katanya sih ada rasa ga enak jadi brenangnya cuma sbentar, ga pake mandi langsung pulang. Mbuh bener mbuh ora tapi aku ya percaya aja, wong namanya istri lagi perhatian sama suami kok ya .... he he !.
Langsung aku minta istri temenin aku ke UGD RS Puri Cinere yang skarang sudah punya cardiac center “Hospital Cinere”.
Di UGD, aku ditanya sakit apa? Begitu aku bilang dada rasa tertekan langsung aku ditidurin di brankar(?) dipasangin sgala macem tetekbengek alat kesehatan (kalo ada yang ga bengek mungkin masih bagusan he he..). Di hidung ada pipa oksigeen, di skitar dada, kaki dan tangan ditempelin banyak kabel dan diketek diselipin termometer. Tekanan darah diukur dari kedua lengan. Di tangan kiri dipasangin infus, dan dari tangan kanan darahku disedot, katanya buat dikirim ke lab.
Trus terang aku lumayan bingung, wong aku belon bilang apa2 kok udah diperkosa disuruh ngikutin apa maunya. Mreka bilang itu adalah tidakan SOP penanganan serangan Jantung.
Tak brapa lama dokter jantungnya, dr Hera, dateng. Aku ditanya mana yang sakit aku bilang ga ada, kecuali rasa ketekan di dada kiri. Dia masih nanya mungkin sakit di dada, di punggung, di tangan, ato di dagu ? aku bilang pokoke kaga ada yang sakit. Dia colokin ujung stetoskop ke seantero dada dan peruku. Geli juga sih tapi aku tahan.
Mantuku yang ternyata sdh dikasitau, nelpon bojoku, nanya sapa dokter yang nanganin. Begitu dibilang dr. Hera, mantuku bilang, dr.Ismoyo SpJP, dosen pembimbingnya, mau ngomong sama dr.Hera. Gatau apa yang mereka bicarakan, tapi kemudian mantuku bilang besok kita disuruh pindah ke RS khusus jantung Bina Waluya di Pasar Rebo, biar ditangani oleh dr.Munawar,SpJP yang katanya sudah dikontak dr.Ismoyo.
Dr Munawar itu konon termasuk salah satu dr. jantung terbaik di negri ini. Sewaktu pak Harto sakit dia juga yang sering mewakiti tim dokter njelasin perkembangan (penyusutan?) kesehatan pak Harto kepada wartawan. Tapi kenyataannya pak Harto dood juga … he he .
Tak lama kemudian dr Hera-nya pergi gatau ke mana.
Sekitar stengah jam aku dibiarin begitu. Untungnya tiba2 saja konco lichtingku yang biasa dipanggil srs Imot masuk ke UGD. Dia bilang lagi jalan pagi, ngeliat mobilku di depan RS Puri Cinere, jadi pengen tau ada apa? Lantas blionya ketemu bojoku yang lagi ngurus pendaftaran. Jadinya ada temen deh…
Lantaran belon sarapan sama skali, perut mulai trasa lapar. Aku panggil perawat buat mesen dua porsi bubur ayam. Bedua kami makan bubur di UGD dengan segala macem selang dan kabel masih nempel di badan.
Skitar satu jam kemudian aku digeredek ke ICU jantung. Tiap jam dicek EKG dan tekanan darah otomatis yang langsung bisa diliat angka dan grafik denyutnya di monitor. Hari itu aku betul2 di paksa tiduran, bahkan pipispun di pispot. Padahal rasanya aku gada trasa sakit apa2. Mana tempat tidurnya gak enak lagee …
Malemnya konco lichtingku yang laen, kang Ngumar sama mantan pacarnya bezoek. Rupanya bojoku memang sempet nelpon kang Ngumar, berkait dengan permasalahan jantungan. Soale belionya kan termasuk senior/alumnus korban jantungan, sehingga diharap akn dapat ngasih pencerahan. Blio bilang kaga apa2 soale bebrapa kali hasil pemeriksaan enzym negatip. Dokter juga bilang begitu tapi buat mastiin dokter bilang besok mo di MSCT (Multi Slice Computed Tomography) - scanning buat motret jantung 3 dimensi dari berbage sisi. Tapi aku bilang besok mau pindah ke RS BinaWaluya. Dr Hera bilang sbetulnya gak perlu, soale di RS Puri smua peralatan selain lengkap juga mutakhir/canggih. Aku bilang aja yang minta dr. Ismoyo kok, dan bahkan kamarnya sdh disiapin sama dr.Munawar. Dr. Hera ga bisa komen apa2, soale dia juga mantan muridnya dr.Ismoyo dan dr.Munawar.
Sebetulnya ada motip lain knapa pindah, yaitu lantaran RS Puri ga bisa pake Askes, sementara RS Bina Waluya bisa.
Malem aku ga bisa tidur. Bukan lantaran jantungnya sakit. tapi lebih karena keganggu selang infus dan kabel2 monitor alat ukur tekanan darah yang masih nempel di badan. Mana kasur dan bantalnya juga ga enak.
Paginya dokter lain, dr. Farid, dateng. Dia bilang pindahnya gausah pake ambulan, tapi pake mobil sendiri saja, wong hasil tindakan sementara itu gada masalah. Dia juga bilang nanti yang dampingin biar dr.Cuno saja, yang notabene adalah anakku. Surat pengantarnya saja nanti dia siapin. Aku bilang oke gapapa. Aku malahan seneng soale bisa pulang dulu buat mandi, buang air, ganti baju dan sarapan.
Setelah bayar biaya yang lumayan gede aku pulang.
…………………………
Skitar pkl 11:00 diantar istri, anak dan mantu aku masuk UGD BinaWaluya. Prosedur yang mirip sama dilakukan juga di sini. Hasilnya juga meh sama. EKG dan tekanan darah oke, enzym negatip. Dr. Munawar bilang nanti akan dilakukan tindakan MSCT buat mastiin. Dia bilang kalo hasilnya baik - seperti dugaannya – aku bisa langsung pulang.
Ternyata hasil scan meragukan. Sepertinya ada sesuatu yang berbeda dengan kesimpulan hasil pemeriksaan EKG, ronsen thorax dan pemriksaan enzym. Dr. Munawar bilang terpaksa akan dilakukan kataterisasi buat ngeliat apakah ada penyempitan koroner. Tapi waktunya ga perlu segra. Dia jadwal hari Rabu minggu depan (12/05/2010)
Malemnya skitar pkl 11:00 setlah nyelesein administrasi aku pulang. Sama skali gada pembayaran karna smua katanya bisa dikaver Askes.
Besok paginya aku ditilpon staf RS yang ngurusin Askes. Dia bilang Askesnya ga berlaku soale aku langsung pulang, ga nginep, jadi dianggepnya ga gawat. Weleh .. weleh.. Aku bilang apa sih sulitnya tinggal kluarnya di mundurin?
Setlah beradu argumen lumayan cukup lama, akhirnya Ny. Munawar, Kabag Keuangan, yang notabene adalah istri bos RS, mutusin hari itu aku harus kembali ke RS, dan kateterisasi dilaksanakan Rabu esok harinya. Aku nanya apa dr.Munawar sdh setuju? Dengan enteng dia jawab “bisa diselipin”. Bahkan dia bilang, “bpk nanti giliran ke dua”.
Besoknya aku baru tau ternyata ibu Munawar ini memang yang banyak berperan dalam me-menej RS termasuk ngatur apa yang hrs dilakukan sang suami. Presis sperti yang banyak terjadi di lingkungan keluarga pangsiunan Moro Embe .. he he .. !!
Jadilah sorenya aku balik masuk RS.
Rabu tanggal 05/05/2010 pkl 07:30 aku digredek masuk ruang oprasi. Pelaksananya dr. Munawar dibantu dr.Benny dan bebrapa tenaga medik. Kateter dimasukan lewat pangkal paha, lantaran katanya jantungku rada aneh saengga kagak bisa via pergelangan tangan. Buat aku sih terserah pakar saja..
Ternyata keanehan jantungku betul2 aneh dalam arti yang sebenarnya karna berbeda dengan jantung manusia biasanya. Dr Munawar pake istilah ‘anomali’. Aku jadi ragu apa aku ini masih termasuk jenis manusia ato bukan. Ato jangan2 justru mereka semua yang bukan manusia … he he. !
Mungkin keanehan ini akhirnya tersiar, soale kemudian banyak dokter yang ikut nimbrung, ngariung nonton, baik di ruang monitor maupun langsung masuk ke ruang operasi.
Upaya kateterisasi dicoba bebrapa kali tetep ga bisa. Aku sampe nanya, “sebetulnya ada apa sih dok?” Dijawab “belum ketemu, saluran arteri jantungnya ada kelainan, anomali”. Sambil becanda aku tanya apa jantungnya masih ada? Ternyata dijawab juga, “masih, jangan kuatir”. Smua yang ngariung pada ketawa.
Sampe 6 kali ‘kabel kateter’nya diganti dengan berbage tipe dan ukuran, baru dr Benny setengah teriak : “At Last..!!”. Aku tanya lagi ada apa? Dijawab bahwa sudah ketemu. Tapi itupun mreka bilang melalui modifikasi. Hasilnya?
Sungguh mengejutkan.
Ternyata ada penyempitan (stenosis) di dua cabang arteri kiri masing2 sebesar 90% dan 70%. Setelah dokter koordinasi dengan bojo utk jenis stent (ring?) yang dipilih, akhirnya di saluran arteri kiri jantungku dipasang 2 stent : stent DES Cyper 2.75x13mm, dan stent DES Cyper 2.5x23mm.
Akhirnya proses kateterisasi yang biasanya hanya ½ sampe 1 jam, kali ini memakan waktu 2 jam (pkl 08:00 – 10:00) baru kelar.
………………………
Sebetulnya apa sih maksudku crita ini smua?
Begini..
Yang pertama. Ternyata Olah Raga saja tidak bisa menjamin kita terhindar dari serangan jantung.
Aku kira temen2 lichting AAL rayon Jaksel tahu presis kalo aku termasuk yang sangat aktif olah raga buat jaga kesehatan. Sebelum clubhouse Villa Cinere terbakar aku berenang hampir tiap hari, pake fin rata2 50 x panjang kolam @ 50 meter tanpa brenti. Pada waktu HUT AAL ke 50 aku bahkan sempat ikut brenang lintas selat Madura yang konon lebarnya skitar 4.5 mil.
Setlah clubhouse terbakar dan kolam ditutup aku ganti olahraga jalan cepat di treadmill (kebetulan di rumah ada ruang fitness) dengan kecepatan 5.5 – 6 km selama ½ - 1 jam. Beban ditambah dengan naikin sudut tanjakan. Abis itu aku narik-2 beban 10 keping (total skitar 45 kg?) masing2 gerakan 20 x tarikan. Abis itu aku misih angkat barble 9 kg. Pada menjelang tidur aku masih perlukan angkat barble yang ada di kamar tidur @ 6kg.
Itu smua aku kerjakan hampir setiap hari.
Kalo kebetulan nganter anakku yang bontot kuliah, aku langsung jalan keliling kampus UI Depok selama paling sedikit 1 jam. Kang Imam, koncoku satu lichting pernah dua kali ikut tapi kemudian mundur tanpa sebab.
Aku crita ini bukan mau nyombong, tapi justru sebaliknya. Wong aku yang sudah berusaha – boleh dibilang maksimal – saja ternyata masih terkena serangan jantung, dan nyaris fatal.
Bayangkan kalo tiba2 kebuntuannya ningkat jadi 100%? Ya usai sudah lah … he he..
Trus bagemana dengan yang kaga ato kurang berusaha?.
Oke mungkin memang ada faktor genetika, tapi kan sapa yang tau presis penyakit kakek ato cicit kita?
Yang ke dua. Ternyata serangan jantung tidak slalu pake aba2. Ga pake bilang2 dia. Bayangin aku selama itu ga pernah terasa apa2 kok tiba2 dalam tempo yang relatif singkat menyerang dan hampir fatal. Padahal skitar 5 bulan lalu aku tes treadmill di RSAL, hasilnya exellent.
Yang ke tiga. Ternyata sakit jantung itu muahaaall. Bayangkan brapa biaya semua itu kemarin yang cuma selama 4 hari (Minggu – Kamis)? Sama dengan pendapatan pangsiunan bintang dua selama 4 tahun bo … . Itu betul kang, aku ga bohong. Untungnya yang 40 jt dibayar askes
Belum lagi setelah operasi ini, aku harus minum obat selama hayat dikandung badan, ga boleh putus. Mana harga obatnya juga bukannya murah lagee … (skitar Rp.40.000 / hari)
…………………………
Nah, setlah baca truestory yang cukup panjang, sila mentemen pada mulai mikir CB / CA (Cara Bertindak/ Course of Action) apa yang akan dilaksanakan baik oleh sendiri ato kluarga, kalo kejadian yang sperti ini terjadi pada diri mentemen. Pasti smua tidak menghendaki, tapi siapa tau .. ;(
Pikirkan juga tindakan preventipnya.
Dari pengalamanku selama ini, kayaknya kesalahanku lantaran terlalu ngabaikan tingkat kolestrol darah, yang dari dulu hampir slalu diatas 250.
Olah raga, paling tidak buat aku, sama sekali tidak bisa nurunin tingkat kolesterol.
Tingkat LDLku juga slalu tinggi, jauh diatas tingkat ideal 70. Sebaliknya HDL terlalu rendah.
Konon penyebabnya adalah rokok. Soalnya - kata yang ngerti – rokok akan menahan tingkat HDL (kolestrol baik) tetap rendah ga akan bisa naik.
Aku juga masih berharap mudah2an mulai skarang bisa brenti merokok .. he he ..
……………………………………..
Trims sudah ikut baca, mudah2an manfaat...
/esKa. 05/06/10
Senin, 22 Januari 2018
COFFEE... EH, CAPUCHINO (Italia 1978)
Selesai makan kami meneruskan perjalanan ke arah Padua (PANDOVA). Di antara Bologna – Ferrara mobil aku masukkan ke sebuah rest area, untuk sekedar buang air kecil dan mengganti pampers baby Cula. Aku lihat di atas motorway terdapat jembatan yang digunakan sebagai café. Kami naik ke salah satu counter minum semacam Starbuck yang aku lupa namanya, sekedar untuk duduk sambil melihat pemandangan dan kendaraan-kendaraan yang melintas di bawahnya.
Untuk sekedar basa-basi agar tidak diusir, aku memesan secangkir kopi dengan menggunakan bahasa Inggris. “Coffee please !” kataku. Pramuria yang melayaniku kemudian mengambil cangkir, meletakkannya di bawah satu alat yang aku kira sebuah coffee maker, dan menarik sebuah tuas. Kemudian cangkir itu disodorkan kepadaku sambil menyebutkan harganya. Aku lihat di dasar cangkir ada sedikit, kalau tak hendak dikatakan beberapa tetes, cairan hitam yang beraroma kopi. Meski terheran-heran tetap saja aku bayar sesuai harga yang dia minta. Aku mencoba meminum cairan hitam yang tidak lebih dari satu teguk itu. Ternyata itu memang kopi. Tapi ... kenapa sedikit amat?
Aku kemudian memanggil kembali pramuria tadi. Dengan bahasa Inggris yang aku upayakan sefasih mungkin, mencoba lagi memesan kopi dengan menyebut “a cup of coffee”, dengan harapan akan diberi secangkir penuh kopi. Ternyata yang disodorkan tetap saja beberapa tetes kopi di dasar cangkir. Sambil garuk kepala yang tidak gatal aku menoleh ke kiri dan ke kanan. Kebetulan aku lihat ada pengunjung yang sedang menikmati secangkir penuh kopi. Aku memberitahu si pramuria dengan bahasa isyarat sambil menunjuk cangkir kopi yang ada di depan tamu tadi. “O.. capuchino ..!” katanya. Kemudian dia menarik kembali cangkir “kopi” yang disodorkannya tadi, dan beberapa saat kemudian kembali menyodorkan secangkir penuh kopi ... eh capuchino.
***
(Copas dari buku "Sosok Seorang MARINIR BANYUMAS", Otobiografi Mayjen TNI (Mar) Sudarsono Kasdi)
Selesai makan kami meneruskan perjalanan ke arah Padua (PANDOVA). Di antara Bologna – Ferrara mobil aku masukkan ke sebuah rest area, untuk sekedar buang air kecil dan mengganti pampers baby Cula. Aku lihat di atas motorway terdapat jembatan yang digunakan sebagai café. Kami naik ke salah satu counter minum semacam Starbuck yang aku lupa namanya, sekedar untuk duduk sambil melihat pemandangan dan kendaraan-kendaraan yang melintas di bawahnya.
Untuk sekedar basa-basi agar tidak diusir, aku memesan secangkir kopi dengan menggunakan bahasa Inggris. “Coffee please !” kataku. Pramuria yang melayaniku kemudian mengambil cangkir, meletakkannya di bawah satu alat yang aku kira sebuah coffee maker, dan menarik sebuah tuas. Kemudian cangkir itu disodorkan kepadaku sambil menyebutkan harganya. Aku lihat di dasar cangkir ada sedikit, kalau tak hendak dikatakan beberapa tetes, cairan hitam yang beraroma kopi. Meski terheran-heran tetap saja aku bayar sesuai harga yang dia minta. Aku mencoba meminum cairan hitam yang tidak lebih dari satu teguk itu. Ternyata itu memang kopi. Tapi ... kenapa sedikit amat?
Aku kemudian memanggil kembali pramuria tadi. Dengan bahasa Inggris yang aku upayakan sefasih mungkin, mencoba lagi memesan kopi dengan menyebut “a cup of coffee”, dengan harapan akan diberi secangkir penuh kopi. Ternyata yang disodorkan tetap saja beberapa tetes kopi di dasar cangkir. Sambil garuk kepala yang tidak gatal aku menoleh ke kiri dan ke kanan. Kebetulan aku lihat ada pengunjung yang sedang menikmati secangkir penuh kopi. Aku memberitahu si pramuria dengan bahasa isyarat sambil menunjuk cangkir kopi yang ada di depan tamu tadi. “O.. capuchino ..!” katanya. Kemudian dia menarik kembali cangkir “kopi” yang disodorkannya tadi, dan beberapa saat kemudian kembali menyodorkan secangkir penuh kopi ... eh capuchino.
***
(Copas dari buku "Sosok Seorang MARINIR BANYUMAS", Otobiografi Mayjen TNI (Mar) Sudarsono Kasdi)
Langganan:
Postingan (Atom)